01 4 / 2014

Dalemmm

#Namastea – View on Path.

Dalemmm

#Namastea – View on Path.

01 4 / 2014

Nemu ini tadi.

Lucu ya.

*love* – View on Path.

Nemu ini tadi.

Lucu ya.

*love* – View on Path.

24 3 / 2014

Di sebuah toko yg jualan lukisan batik…

Islam, Kristiani, dan Kejawen berdampingan dalam damai. How cool is this?

:)

Foto by Ismet – View on Path.

Di sebuah toko yg jualan lukisan batik…

Islam, Kristiani, dan Kejawen berdampingan dalam damai. How cool is this?

:)

Foto by Ismet – View on Path.

22 3 / 2014

Dulu Safran penggemar berat teh. Belakangan dia gak mau minum teh lagi, entah kenapa.

Begitu nyampe Jogja, tiba2 dia minta teh lagi.

Me: “Kok tiba2 kamu mau teh lagi?”
Safran: “Kalena kita kan di Jogja. Kalo di Jogja teh lasanya enak. Di Jakalta gak enak.”

Setelah dirunut, dia memang berhenti minum teh beberapa saat setelah kembali dari liburan ke Jogja setengah tahun yg lalu… with Ismet – Read on Path.

20 3 / 2014

Namastea

Namastea

14 3 / 2014

Dalam perjalanan menuju sekolahnya, Safran membaca papan-papan toko di jalan. Lalu tiba-tiba:

"Di jalan Benda ada dua tempat yang namanya aneh. Toko Jalan sama Kopi Dimana."

"Kenapa aneh?"

"Toko Jalan aneh, kalena toko kok jualannya jalanan. Kopi Dimana aneh, kalena dia kan udah punya tempat tapi masih nanya di mana." with Ismet – Read on Path.

13 3 / 2014

What my tea is saying right now – View on Path.

What my tea is saying right now – View on Path.

10 3 / 2014

Repath Dian yg repath Meiske.

Makin ke sini memang saya sendiri makin merasakan indahnya kesederhanaan dan ke-apa ada-an. Karena menua? Bisa jadi. Tp seperti hasil diskusi sore tadi, makin gak tahan liat semua yang berlebihan, apalagi yg berlebihan dalam menakar problemnya. Semakin banyak rasanya melihat org Indonesia, dr generasi manapun, yg menjadikan hal-hal yg gak penting jadi masalah besar. 
Which means, masalah itu sebenarnya ada di kepala mereka sendiri.

Which means, sebenernya mereka hanya sibuk dgn dunia dan isi kepalanya sendiri.

Lucu ya. Sungguh menarik. – View on Path.

Repath Dian yg repath Meiske.

Makin ke sini memang saya sendiri makin merasakan indahnya kesederhanaan dan ke-apa ada-an. Karena menua? Bisa jadi. Tp seperti hasil diskusi sore tadi, makin gak tahan liat semua yang berlebihan, apalagi yg berlebihan dalam menakar problemnya. Semakin banyak rasanya melihat org Indonesia, dr generasi manapun, yg menjadikan hal-hal yg gak penting jadi masalah besar.
Which means, masalah itu sebenarnya ada di kepala mereka sendiri.

Which means, sebenernya mereka hanya sibuk dgn dunia dan isi kepalanya sendiri.

Lucu ya. Sungguh menarik. – View on Path.

02 3 / 2014

Us: Mas, mau pesen grilled banana satay dong
Waiter: Wah, lagi kosong, bu. Pisangnya nggak ada.
Us: Yah. Trus dessert-nya yg ada apa mas?
Waiter: Ada banana split, bu

A similar thing happened a few years ago, di sebuah restoran sea food Manado.

Me: Mbak, mau kepala ikan dong
Waitress: Kosong, Ibu. Ikannya tidak ada.
Me: Ha? Jadi semua menu ikan kosong?
Waitress: Ikan ada, Ibu. Tapi kepalanya nggak ada semua.

02 3 / 2014

Java Jazz kemarin menyenangkan. Kuncinya memang menjalaninya dengan santai, dan tiap bertemu satu show yang menarik, ditonton aja sampai habis, nggak usah khawatir ada show lain yang akan segera mulai jadi harus cabut buru2. Nggak usah ngoyo. Atau mungkin kami berprinsip begini karena sudah menua? Hahahahaha

Kemarin nonton Toni Barreto yang suaranya bening khas Brasil.

Lalu Krakatau Reuni yang masih mengagumkan setelah 24 tahun dan bisa bikin penonton ikut tertawa dan terrharu bersama-sama. It was an amazing show. Trie Utami masih sangat powerful on stage, dan bisa megang penonton. We were all feeding off of her hands.

Finding of the day adalah menonton Schroeder-Headz. Trio piano-bass-drum dari Jepang ini cukup bikin menganga. Dan di beberapa titik, saya merasa seperti menonton Keith Emerson. Yes, I like them a lot. Sampai langsung belanja CD dan kaosnya. Hahahahaha.

Tania Maria membawa saya ke ketika menonton dia di Java Jazz pertama, sepuluh tahun lalu. Tiba2 inget lagi waku itu dia kain di ruang yang kecil, penonton berdesakan. Tapi terus semua rame2 berdri dan berdansa. Di show kali ini itu tidak terjadi, tapi ya crowdnya sudah beda sih. Yang jelas perkusionisnya masih sama!

Show penutup hari, Paula Morelenbaum. Menonton Paula seperti menonton Best Hits of Bossanova. Semua lagunya kita pernah dengar, walau kita gak tahu judulnya. Dia mengakhiri show-nya dengan Agua de Beber dan Aguas de Marco. Dan penonton puas dansa-dansa sambil ikut nyanyi sebisanya (gak bisa portugis, yg penting bunyinya kira2 sama lah). Obrigada, Paula!

All in all, yesterday’s Java Jazz was really nice. Gangguan yang biasa ada, hanya sedikit terjadi. Alay2 yang ribut ngobrol saat show dan org2 yg obsesi mendokumentasikan dengan hp sangat minimal. Suasananya lebih mendekati Java Jazz pertama. Dan ketika semakin banyak orang yang datang hanya karena musiknya, dan bukan karena lainnya, Java Jazz menjadi pengalaman yang memabukkan.